Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Agustus 2011

KISAH NABI MUHAMMAD SAW MENJELANG AJAL

Betapa mulia dan indahnya akhlak baginda Ya Rasulullah SAW Mengingatkan kita sewaktu sakratul maut.


Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala nitu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah
kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"."Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru
sekali ini aku melihatnya,"tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. " Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan
kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah
bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang."Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan
dadanya sudah tidak bergerak lagi.


Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya."Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali
mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii!" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allaahumma sholli 'alaa Muhammad wa'alaihi wasahbihi wasallim. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Usah gelisah apabila dibenci manusia kerana masih banyak yang menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah kerana tiada lagi yang mengasihmu di akhirat kelak.

KISAH TELADAN - KISAH LIMA PERKARA ANEH

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
http://2.bp.blogspot.com/-FBgm9pUD404/Tj1xuswcAvI/AAAAAAAACg8/VYa3X9JzKs0/s320/camels_desert.jpg
Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya."

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut.

Senin, 08 Agustus 2011

KISAH DUA TUKANG SOL SEPATU


Mang Udin, begitulah dia dipanggil. Seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol sepatu. Pagi buta Mang Udin sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari, Mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.
Perutnya mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.
Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukang sol sepatu lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak, nih,” pikir Mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.
“Bagaimana dengan hasil hari ini, Bang? Sepertinya laris, nih?” kata Mang Udin memulai percakapan. “Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu,” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.
“Saya baru satu, Bang, itu pun cuma benerin jahitan,” kata Mang Udin memelas.
“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.” “Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga,” kata Mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah,” kata Bang Soleh sambil tetap tersenyum. “Emang begitu, Bang?” tanya Mang Udin, yang sebenarnya sudah tahu harus banyak bersyukur. “Insya Allah. Mari kita ke masjid dulu, sebentar lagi azan Dzuhur,” kata Bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.
Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.
“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”
Akhirnya, Mang Udin mengikuti Bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hafal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.
Setelah shalat, Bang Soleh mengajak Mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja Mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti.


“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.” Akhirnya Mang Udin ikut makan di warung tegal terdekat. Setelah makan, Mang Udin berkata, “Saya tidak enak, nih. Nanti uang untuk dapur Abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barokah,” kata Bang Soleh tetap tersenyum. “Abang yakin?” “Insya Allah,” jawab Bang Soleh meyakinkan. “Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain,” kata Mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita,” kata Bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa. “Apa kabar, Mang Udin?” “Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa kok penghasilan saya malah turun?
Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat,” kata Mang Udin setengah menyalahkan. Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata, “Masih ada hal yang perlu Mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.” “Oh ya, apa itu?” tanya Mang Udin penasaran. “Tawakal, ikhlas, dan sabar,” kata Bang Soleh sambil kemudian mengajak ke masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi, “Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran Abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak cocok. Mungkin keyakinan Mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana Mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum. Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh Bang Soleh.
“Bagaimana supaya yakin, Bang?” kata Mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.
Rupanya, Bang Soleh sudah menebak, ke mana arah pembicaraan Mang Udin.
“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, di sini?” tanya Bang Soleh. “Tidak.” “Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan tiga hari berturut-turut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh.

Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”
Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“Oke, deh, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih, Bang,” kata Mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi Dzuhur, kita ke masjid, yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.” Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimis bahwa hidup akan lebih baik.

Sumber

KISAH GONG NEKARA ASAL CHINA DI SELAYAR


Sebuah gong nekara atau disebut the bronzen drum yang diyakini merupakan gong terbesar dan tertua di dunia, peninggalan China yang berada di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan sekitar 2.000 tahun silam, diyakini memiliki kekuatan gaib.

Cerita Toa (65), seorang penjaga gong, kehadiran peninggalan kebudayaan zaman perunggu berawal dari seorang warga China yang sedang berlayar di sekitar perairan Kepulauan Selayar. Entah mengapa kapal yang berasal dari Dong Son itu lalu terdampar. "Tidak ada yang mengetahui secara pasti mengapa kapal China bisa terdampar," ujarnya.

Namun dari cerita nenek moyang, gong yang memiliki tiga fungsi pada masa kerajaan Putabangun yakni fungsi keagamaan, sosial budaya dan politik tersebut ditemukan pertama kali oleh salah seorang penggarap kebun bernama Pao pada tahun 1969 silam.

Barang itu ditemukan di dalam tanah dengan kedalaman 2-3 meter di Papam Laheo, Lingkungan Bontosaile. "Ketika itu Pao hendak menanam kelapa, namun setelah galiannya mencapai 2 meter, linggis yang digunakan Pao mengenai sebagian badan gong hingga berbunyi," ungkap Toa sembari membersihkan debu yang menempel di gong nekara itu.

Para ahli sejarah menafsirkan, gong nekara itu merupakan peninggalan zaman perunggu. Kesimpulan itu diambil, setelah para sejarawan melakukan penelitian dan menemukan gong tersebut terbuat dari perunggu yang bentuknya menyerupai dandang terbalik, dengan luas lingkaran permukaan sebesar 396 cm persegi, luas lingkaran pinggang 340 cm persegi, dan tinggi 95 cm persegi.

Keunikan yang dimiliki gong yang dikenal sakral itu adalah adanya gambar bermotif flora dan fauna terdiri dari gajah 16 ekor, burung 54 ekor, pohon sirih 11 buah dan ikan 18 ekor. Sementara dipermukaan gong bagian atas terdapat 4 ekor arca berbentuk kodok dengan panjang 20 cm dan di samping terdapat 4 daun telinga yang berfungsi sebagian pegangan.

Pada bidang pukul terdapat hiasan geometris, demikian pula pada bagian tengah gong terdapat garis pola bintang berbentuk 16. Nekara secara vertikal terdiri atas susunan kaki berbentuk bundar seperti silinder, badan dan bahu berbentuk cembung.

Keberadaan gong nekara yang memiliki nilai seni tinggi ini sempat mendorong oknum tak bertanggung jawab mencuri salah satu arca kodok. Namun setelah sekian tahun dicari, akhirnya arca kodok tersebut berhasil ditemukan di Jakarta. Akibat kejadian itu, pemerintah provinsi berinisatif membuatkan rumah sebagai pelindung.

KISAH NELAYAN PEMBURU MAYAT DI SUNGAI KUNING CHINA

Pekerjaan yang dilakukan seorang nelayan di China ini barangkali paling aneh di dunia. Wei Xin Peng, nama pria itu, biasa berburu mayat di Sungai Kuning. Wei, seperti diungkapkan oleh laman BBC, kerap memulai harinya dengan nongkrong sambil merokok di tepi sungai. Matanya mengamati air Sungai Kuning yang keruh. Dia yakin, sungai itu pasti selalu menyimpan mayat manusia, entah korban kecelakaan, dibunuh, atau pun bunuh diri.
Wei Xin Peng
Lelaki 55 tahun itu seperti hapal aliran sungai, dan dia jeli melihat ke mana arus membawa mayat-mayat yang tenggelam di sungai itu. Biasanya, Wei mendayung perahunya ke dekat satu jembatan kecil di hilir. Di sana, biasanya mayat “parkir” sebentar, karena tersangkut di celah besi jembatan. Dalam tujuh tahun terakhir, mencari mayat kini adalah kegiatan rutin Wei. Dia menjual temuannya itu ke kerabat mayat bersangkutan. “Saya memberi penghargaan kepada si mayat,” ujarnya seperti dilansir dari laman BBC, Senin 22 November 2010.

Wei mengaku telah mengumpulkan sebanyak 500 mayat dari dasar sungai. “Orang-orang ini mati dengan cara mengenaskan,” ujar Wei. Dia mengumpulkan mayat temuannya itu di satu teluk kecil yang tak tersentuh arus. Mayat-mayat beragam bentuk itu ditumpuk di sana. BBC melaporkan, di teluk kecil itu ada empat mayat yang tubuhnya telah kaku, dengan kepala tertelungkup ke bawah. Setiap kali berhasil menangguk mayat, Wei mengumumkannya di koran lokal. Dia menyebut ciri fisik mayat itu, sehingga kerabat yang bersangkutan dapat segera mengenalinya. Biasanya, kerabat si mayat akan menelepon Wei, dan meminta diantarkan ke tempat dia menyimpannya.


Wei membawa kerabat si mayat ke teluk kecil itu. Dia memasang sedikit tarif untuk jasa membalikkan tubuh si mayat agar wajahnya dapat terlihat. Jika kerabat mayat ingin membawanya pulang, maka mereka harus membayar uang tebusan sebesar lebih dari US$500, atau sekitar Rp. 4,4 juta. Wei mengatakan, selama ini dia telah menjual sekitar 40 mayat. Tapi terkadang, keluarga mayat enggan membayar, dan pulang tanpa membawa jenazah yang ditemukan Wei. “Satu kali orang tua mencari anaknya. Mereka melihat sebentar, lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Mereka tak membawanya pulang,” ujar Wei.


Jika sudah begini, Wei terpaksa harus menguburkan mayatnya secara pantas. Soalnya, pemerintah akan membiarkan mayat temuannya membusuk tanpa melakukan apapun. Wei mengatakan apa yang dia lakukan bukan semata-mata karena uang, tapi karena alasan lebih pribadi. Dia pun berkisah. Pekerjaan ini, kata Wei, bermula dari usahanya untuk mencari anaknya sendiri, yang tenggelam di Sungai Kuning. “Anak saya tenggelam di sungai ini dan saya tidak dapat menemukan mayatnya. Sangat menyakitkan. Itu sebabnya saya melakukan pekerjaan ini,” ujar Wei. Putra Wei sampai sekarang belum ditemukan. 

Rabu, 03 Agustus 2011

KISAH ORANG BATAK YANG LOLOS DARI KEKEJAMAN HITLER

Di DALAM tubuh Parlindungan Lubis, tidak setetes pun mengalir darah Yahudi. Dia Batak tulen dari Mandailing. Namun kenyataannya, dia harus mendekam selama lima tahun di kamp konsentrasi NAZI , dan masih beruntung bisa keluar dari tempat penyiksaan dan pembantaian yang sadis tiada tandingannya itu. Lubis mengisahkan pengalamannya yang luar biasa itu dalam sebuah otobiografi. Sudah agak lama beredar; namun buku tersebut masih tetap aktual sampai sekarang.



Pasalnya, dialah satu-satunya orang Indonesia yang mengalami langsung hari-hari mencekam di kamp konsentrasi Nazi. Tempat pembantaian yang mengerikan itu sengaja dibangun untuk mewujudkan impian gila Hitler, yaitu memusnahkan etnis Yahudi, kaum gay, orang-orang cacat, gipsi dan Saksi Jehovah.

Berikut ini Anda bisa menyimak mosaik-mosaik pengalaman Pandapotan Lubis yang sungguh dramatis itu, melalui resensi buku tersebut yang ditulis oleh Koencoro : Otobiografi Parlindoengan Loebis.



LUBIS berangkat ke Negeri Belanda untuk belajar Kedokteran, setelah lulus Kandidat I di Betawi (begitu dia menuliskannya). Semasa di Betawi, ia sempat aktif di Jong Islamieten Bond dan Jong Batak, yang kemudian bersama perhimpunan mahasiswa lain (selain Jong Java) bersatu membentuk PPPI dan Indonesia Moeda.

Di Leiden, tak lama ia direkrut Perhimpoenan Indonesia. Sepeninggal Hatta cs, PI bersifat kekirian, dengan garis Stalinis yang jelas. Sempat Lubis menjadi ketua, selama 3 tahun, dan membawa PI ke arah yang tak begitu kiri. Kerjasama dengan Partai Komunis Belanda dihentikan, lalu bekerjasama dengan Partai Sosialis (SDAP).

Kemudian PD II pecah. Mei 1940, saat Jerman bergerak ke barat, Belanda menyerah nyaris tanpa perlawanan. Dan bahkan kemudian kehidupan masih tampak normal dalam pendudukan Jerman. Sebelum serangan Jerman pun, partai NSB yang pro Jerman pernah memperoleh suara cukup besar (separuh suara) dari rakyat Belanda.

Selama pendudukan Jerman ini, Lubis sempat menyelesaikan kuliah di Leiden, lalu menikah di Haarlem, menjajagi bekerja di Utrecht, dan akhirnya membuka praktek di Amsterdam. Tapi kemudian, 26 Juni 1941, dua orang reserse Belanda menjemputnya. Loebis dipenjarakan, dan kemudian dipindahkan ke Kamp Konsentrasi. (Baru pada tahun 1945, Loebis mengetahui alasan penahanannya:

Ternyata Jerman sedang membuka front baru melawan Sovyet, dan para aktivis gerakan pro komunis ditakutkan menjadi partisan di belakang front). Kamp Konsentrasi yang pertama dihuni adalah Kamp Schoorl. Di sini, tawanan belum disuruh bekerja, tetapi hanya disuruh apel dan berolah raga. Kemudian seluruh isi kamp ini digabungkan ke Kamp Amersfoort. Di sini, tawanan memperoleh perkerjaan konstruksi, termasuk memasang kawat berduri. Juga mulai sering disiksa secara kejam, baik oleh orang Jerman, maupun terutama oleh orang NSB.

Lubis kemudian dipindahkan ke Kamp Buchenwald di Jerman. Di sini Lubis mulai kehilangan harapan untuk dibebaskan, kecuali perang berakhir dengan kekalahan Jerman. Ia memutuskan untuk hidup secara efisien dan tanpa hati, untuk bertahan hidup selama mungkin. Di Buchenwald, mereka membuka hutan di pegunungan berkabut, memecah batu, membuat barak, saluran air, listrik, bengkel, dll, selama 7 hari seminggu, 14 jam sehari. Tawanan sering dipukuli, bahkan hingga mati. Tawanan yang mengobrol ditembak.

Namun kemudian Lubis dipindahkan lagi, pada Oktober 1942, ke Sachsenhausen, ke instalasi pabrik pesawat perang Heinkel. Di sini situasi lebih baik. Kamp lebih difokuskan pada pekerjaan teknis, biarpun kekejaman masih berlangsung, dan menyita nyawa manusia segala bangsa di sana. Kali ini, dia ditugaskan sebagai dokter kamp, sehingga tugasnya lebih ringan. Lubis jarang mengulas tentang Yahudi. Ia beralasan bahwa barangkali para Yahudi dipisahkan, dan ditempatkan di kamp tersendiri. Atau barangkali … entahlah. Saat akhirnya pasukan sekutu berhasil masuk ke Jerman, Kamp kacau.


Para tawanan dan penjaga membentuk barisan tak teratur yang terus bergerak ke barat. Tawanan yang keluar barisan langsung ditembak di belakang kepala. Tapi banyak juga penjaga yang juga lari memisahkan diri. Mereka akhirnya berhenti di kampung Grabouw. Sempat barisan dari kamp lain bergabung. Dan akhirnya tentara Russia masuk juga ke kampung itu. Mereka resmi lepas dari tawanan. Tapi perlu waktu untuk memulihkan diri, dan mencari cara untuk lepas dari kawasan Russia, menyeberangi sungai Elbe, masuk ke kawasan Sekutu Barat, dan akhirnya kembali ke Belanda dengan kereta ke Maastricht, lalu naik mobil ke keluarganya di Amsterdam.

Namun, nun di timur, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, dan pada akhir 1945, berita itu mulai terdengar masyarakat Indonesia di Belanda. Lubis dkk langsung menyatakan diri bagian dari Republik Indonesia yang merdeka, dan kekikukan kemudian terjadi lagi. Sempat ada Kongres Pemuda Demokrat Sedunia di Cekoslovakia, dan Loebis ingin menghadiri kongres ini, atas nama Indonesia. Tentu Belanda tak memberikan pass, tetapi atas bantuan Inggris, dia bisa berangkat.

Sambutan untuk Indonesia amat meriah, membuat berang para pemuda Belanda. Lubis kembali ke Belanda menumpang tim Belgia. Pemerintah Belanda akhirnya memperbolehkan orang Indonesia kembali ke negerinya. Namun dengan status sebagai NICA. Banyak yang mengira bahwa ini adalah support yang baik, karena tidak menyadari bahwa NICA justru memusuhi Pemerintah Indonesia Merdeka. Lubis sempat menyadari, dan memberi peringatan kepada lainnya.

Namun saat ia bertolak pulang, ia diberi juga pangkat Mayor NICA, yang tentu ia tolak. Ia mengambil status sebagai dokter kapal, dan dalam status itu sempat menyelundupkan Dr Setia Boedi (Douwes Dekker) kembali ke Indonesia. Di Indonesia, Lubis meneruskan karir sebagai dokter, dan menolak berpolitik. Bekerja sebagai dokter di PT Timah, Belitung. Zaman kaum komunis Indonesia bangkit, Lubis difitnah dan dipensiunkan dini, karena dianggap tak mau mendukung kaum komunis. Tapi ia tetap tinggal di Belitung. Saat istrinya meninggal, baru ia pindah ke Jakarta. Lubis meninggal di ujung tahun 1994, nyaris tanpa perhatian dari bangsa kita.
 

KÄTLIN HOMMIK, 'AYAH, AKAN JADI APA SAYA SAAT MATI?'


Kätlin Hommik lahir dari keluarga yang menganut agama Kristen di Estonia. Tapi Estonia ketika Hommik masih kanak-kanak, berada dibawah kekuasan Uni Soviet yang berideologikan komunis, dimana agama menjadi hal yang tabu dan tak seorang pun boleh membicarakan soal agama.

Satu hal yang masih diingat Hommik, ketika ia berusia tiga tahun dan menanyakan pada ayahnya, “Akan jadi apa saya saat mati?”. Hommik melihat wajah ayahnya tercengang mendengar pertanyaannya. “Bagaimana bisa anak usia tiga tahun mengajukan pertanyaan seperti ini,” begitu mungkin yang terlintas di benak sang ayah.

Ayahnya tak memberi jawaban yang memuaskan Hommik kecil. Di tengah kehidupan masyarakat yang berada dibawah kekuasaan komunis yang tak percaya Tuhan, ayah Hommik hanya memberikan jawaban singkat dan sederhana, “Anakku sayang, kamu hanya akan dikubur di dalam tanah …”

“Saya tidak pernah mendengar hal yang tidak logis dan menyeramkan seperti jawaban ayah saya pada hari itu. Jawaban yang membuat saya mencari kebenaran, meski waktu itu saya baru berumur tiga tahun. Tapi jalan panjang membentang di hadapan saya. Saya tahu, atau sebenarnya merasa bahwa Tuhan itu ada, meski saya tidak bisa harus menyebut-Nya dengan sebutan apa,” tutur Hommik.

“Saya tahu Tuhan selalu ada, mengamati saya. Kalau saya harus menjadi seorang anak perempuan yang baik, itu bukan untuk kedua orang tua saya, tapi buat Tuhan, karena Dia-lah satu-satunya yang melihat saya dimanapun saya berada, bukan orang tua saya,” lanjut Hommik.

Memasuki masa sekolah, Hommik makin sering mengajukan pertanyaan-pernyataan rumit yang tidak mampu dijawab ayahnya. Sang ayah lalu menyuruh Hommik bertanya pada nenek dari pihak ayah. Nenek Hommik lahir ketika Estonia baru lahir sebagai negara Republik, sehingga sang nenek sempat merasakan dibaptis seperti anak-anak lainnya yang beragama Kristen. Neneklah yang pertama kali mengatakan pada Hommik untuk menyebut “Tuhan” yang selama ini ada dalam pikiran Hommik dengan sebutan Tuhan.

“Nenek juga yang mengajarkan saya doa dalam agama Kristen ‘Bapak kami yang ada di surga’. Tapi nenek meminta saya untuk tidak membacanya di depan umum atau di depan orang tua saya, karena jika saya melakukan itu, akan jadi masalah. Saya berjanji pada diri sendiri untuk belajar agama Kristen lebih banyak seiring saya tumbuh dewasa,” ungkap Hommik.

Ketika usia Hommik 11 tahun, Estonia merdeka dan lepas dari Uni Soviet. Hommik mewujudkan niatnya belajar agama Kristen. Ia lalu mendaftarkan diri ke sekolah Minggu yang diselenggarakan gereja. Sayangnya, pihak Sekolah Minggu mengeluarkan Hommik, karena ia dianggap terlalu banyak bertanya hal-hal yang oleh gereja dianggap tidak pantas ditanyakan, karena menunjukkan Hommik tidak yakin akan agama yang dipelajarinya.

“Saya betul-betul tidak mengerti mengapa mereka mengeluarkan saya. Saya merasa tidak ada yang salah dengan pertanyaan saya. Saya cuma ingin tahu mengapa Yesus Kristus disebut anak Tuhan, padahal ‘Tuhan’ tidak menikahi Maria. Lalu, mengapa Adam tidak disebut anak Tuhan, meski dia juga tidak punya ibu dan bapak. Tapi rasa ingin tahu saya ini dianggap terlalu berlebihan oleh guru saya,” ujar Hommik menceritakan pengalamannya di Sekolah Minggu.

Ketika menginjak usia 15 tahun, Hommik mulai belajar agama Kristen sendiri. Ia menganggap dirinya sebagai seorang Kristiani. Tapi ia akhirnya menyadari bahwa ia tidak bisa menganggap dirinya seorang Kristiani karena ada banyak hal yang tidak bisa ia terima dalam ajaran Kristen. Hommik lalu berpikir untuk mencari sesuatu yang lain.

Setelah mempelajari beragama agama dan keyakinan, Hommik akhirnya menemukan Islam. Pengalamannya kecewa dengan ajaran Kristen, membuat Hommik cukup lama belajar Islam sebelum benar-benar meyakininya. Waktu yang lama itu berbuah manis, Hommik menemukan apa yang dicarinya. Ia meyakini Islam sebagai ajaran agama yang paling masuk akal dan ia pun memutuskan untuk bersyahadat, menjadi seorang muslimah.

“Saya pindah ke agama Islam setelah bulan Ramadhan pada tahun 2001. Bulan Ramadhan adalah masa-masa yang indah. Orang berpuasa, menahan diri dari kesenangan fisik, memikirkan orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan kita. Itulah yang saya rasakan tentang hidup saya sebelum menjadi seorang muslim. Saya berpuasa dari apa yang paling dibutuhkan oleh manusia, puasa dari ‘makanan’ yang dibutuhkan jiwa dan pikiran,” ujar Hommik.

Ia menyambung, “Saya betul-betul tidak punya penjelasan yang logis, mengapa saya masuk Islam setelah Ramadan, bukan sebelum atau pada saat Ramadan. Saya berpuasa sebulan penuh, lalu masuk Islam. Saya pikir, saya harus membersihkan diri saya, saya harus mengambil langkah terakhir untuk menerima sebuah kesempurnaan.”

Ketika orang menanyakan mengapa Hommik memutuskan menjadi seorang muslim, Hommik selalu menjawab bahwa sebelumnya ia sudah menjadi seorang muslim, hanya saja ia tidak menyadarinya. Setelah menemukan Islam, butuh tiga tahun bagi Hommik untuk meyakinkan siapa dirinya sebenarnya. Sekarang, jika ada orang bertanya tentang kemuslimannya, Hommik tanpa ragu menjawab “Ya, inilah saya, saya yang sebenarnya. Pada usia 21 tahun saya memutuskan masuk Islam. Terima kasih pada Allah Swt !”

“Menjadi seorang muslim itu penuh rahmat. Kita puasa satu bulan penuh setiap tahun untuk membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Banyak orang di dunia ini harus ‘berpuasa’ lebih lama dalam hidupnya dalam mencari kebenaran,” tandas Hommik. 
 

INILAH SOSOK TETANGGA NABI MUSA A.S DI SYURGA

Nabi Musa merupakan satu-satunya nabi yang dapat berdialog dengan Allah. Setiap kali hendak bermunajat beliau selalu menuju bukit tursina dan diatas bukit inilah beliau akan bertanya kepada Allah SWT.

Suatu hari Nabi Musa bertanya kepada Allah SWT, “ya Allah siapa gerangan tetanggaku nanti disurga?”. Kemudian Allah SWT memberi tahu nabi Musa nama orang tersebut beserta tempat tinggalnya.

Nabi Musa pun bertandang ke rumah orang tersebut, sesampainya dirumah orang tersebut Nabi Musa dipersilahkan masuk oleh si pemilik rumah, seorang anak laki-laki remaja. Tapi tidak seperti pada umumnya remaja ini segera meninggalkan nabi Musa dan masuk ke sebuah kamar kemudian keluar dengan menggendong se ekor babi, seolah tanpa menghirauakan tamunya, remaja ini memandikan babi betina yang digendongnya tersebut penuh hati-hati.

Kemudian setelah selesai dimandikan, babi tersebut diberinya wewangian, memeluk dan menciuminya kemudian dimasukan ke kamar lagi penuh sayang. Remaja tersebut keluar lagi dengan menggendong seekor babi lagi namun kali ini babi jantan, kemudian memandikanya seperti sebelumnya.

Melihat hal ini nabi Musa pun heran dan bertanya dalam hati, “ya Allah inikah tetanggaku nanti disurga”.

Setelah selesai memandikan dan mengembalikan babi jantan tadi barulah remaja ini menemui tamunya tanpa mengetahui bahwa tamunya tersebut adalah seorang nabi.

Kemudian nabi bertanya, “wahai anak muda, apa agamamu?”.
“Saya beragama tauhid.”, jawab remaja itu singkat.

“Lalu mengapa engkau memperlakukan babi sedemikian rupa? tidakah engkau mengetahui bahwa agama tauhid melarangnya?” Tanya nabi Musa.
“Wahai tuan,” kata pemuda itu
“Kedua babi itu sesungguhnya kedua ibu bapak kandungku. Karena dosa besar yang mereka lakukan, Allah menghukum mereka dengan menjadikan mereka seekor babi yang buruk rupa. Adapun tentang dosa mereka terhadap Allah saya tidak tahu. sebab itu urusan mereka dengan Allah. Yang saya ketahui hal itu tidak mengubah sedikitpun kewajiban saya sebagai anak untuk berbakti kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.”

Kemudian ia melanjutkan, “walau rupa mereka telah berubah menjadi babi, mereka tetap orang tua saya, karenanya saya tiap hari berdoa agar dosa mereka diampuni dan wujud mereka kembali seperti aslinya sebagai manusia. Namum Allah belum mengabulkan doa saya”, katanya sambil menunduk sedih.

Maka saat itu juga Allah menurunkan wahyu kepada nabi Musa, “Wahai Musa, inilah orang yang akan bertetangga dengamu nanti di surga. Baktinya sangat tinggi ibu bapaknya. Oleh karena itu kami naikan Maqamnya sebagai anak salih disisi Kami. “

Allah juga berfirman: “Oleh karena dia telah berada di mawam anak salih di sisi Kami maka kami angkat doanya. tempat kedua ibu bapaknya yang kami sediakan didalam neraka pun telah kami pindahkan ke dalam surga.”

Subhanallah, doa anak salih bahkan mampu memindahkan tempat untuk kedua orang tuanya yang telah disediakan di neraka kemudian dipindah ke surga. Maasyaa Allah, mudah mudahan kita semua tergolong sebagai anak yang berbakti terhadap orang tua kita. Amiin Yaa Robb 
 

Senin, 01 Agustus 2011

KISAH SEDIH YANG MERUBAH DUNIA

KISAH KERTAS LEKAT CATATAN


Arthur Fry sering kehilangan catatan kerja. Pekerjaannya amat tidak teratur sehingga catatan yang di tulisnya sendiri tidak dapat diingat. Pada suatu hari dia mendapati bahwa perusahaan tempat kerjanya - 3M - telah menciptakan sejenis lem tetapi sayangnya tidak dapat melekat dengan baik. Dengan kata lain, lem gagal berfungsi. Lem tersebut hanya dapat menempel pada sehelai kertas saja dan mudah tanggal. Rupanya itulah yang di perlukan Fry supaya catatan lebih tersusun rapi. Dia kemudian mendapat sebuah ide dan mengemukakannya kepada pihak manajemen. Produk ini dinamai Post-it. Untuk idenya itu, ia menerima royalti satu persen dari setiap penjualan Post-it sepanjang hayat. Setiap tahun, hasil penjualan yang di edarkan oleh 3M adalah lebih dari US$100 juta. Oleh karena itu, Arthur Fry menerima US$1 juta setiap tahun.

KISAH NOVEL THE SCARLET LETTER



Ketika ada pergantian jabatan di kantor Bea Cukai Boston, Massachusetts, Nathaniel Hawthorne yang bekerja di situ diberhentikan. Malam itu ia pulang ke rumah dengan penuh rasa kecewa dan sakit hati. Dia bimbang, bagaimana keluarganya, terutama istri, akan menerima berita tersebut. Sebaliknya, istri Nathaniel Hawthorne tidak berkata apa-apa ketika berita itu disampaikan kepadanya. Istrinya Cuma mengambil sebatang pen dan sebotol tinta lalu meletakkannya di atas meja di depan Nathaniel Hawthorne. Dia lalu menyalakan api penerang dan merangkul Nathaniel Hawthorne dengan penuh kemesraan seraya berkata '' Abang sekarang tentunya punya waktu untuk menulis buku. '' Nathaniel Hawthorne mendapat semangat baru dari motivasi dan dorongan istrinya. Nathaniel Hawthorne kemudian terus menulis dan menghasilkan sebuah novel yang termashur di seluruh dunia, berjudul The Scarlet Letter.

KISAH UNITED PARCEL SERVICE



James E. Casey, penggagas UPS (United Parcel Service) terpaksa berhenti sekolah ketika berusia 11 tahun guna membantu keluarganya karena ayahnya tidak sehat. Pekerjaan pertama yang diperoleh adalah mengantar pembungkus ke sebuah gudang serba ada dengan gaji bulan sebesar US$2,50. Selain itu, dia juga bekerja sebagai pengantar telegraf di perusahaan telegraf. Ketika beusia 15 tahun, James E.Casey dan 2 orang rekannya yang bekerja sebagai pengantar telegraf memulai usaha sendiri yang kemudian teryata menjadi berhasil. Dari pengantar berjalan kaki, naik sepeda, dan sepeda motor, ia berkembang menggunakan truk. Saat ini, United Parcel Service mempunyai lebih dari 340.00 karyawan di seluruh dunia dengan omset per tahun lebih dari US$22 milyar.


KISAH HOTEL HILTON



Conrad Nicholson Hilton - anak kedua dari 8 orang kakak beradik dilahirkan pada tahun 1887 di San Antonio, wilayah Meksiko. Ayahnya seorang pendatang dari Norway, seorang yang tekun barusaha tetapi telah mengalami beberapa kerugian dalam bisnis. Bisnis utamanya adalah sebuah toko kelontong. Keuntungan yang di peroleh memungkinkan mereka membangun sebuah rumah besar dengan beberapa kamar. Semasa resesi pada tahun 1907, uang sulit di peroleh. Dengan uang simpanan, Conrad pergi ke stasiun kereta api untuk mengiklankan bisnisnya. Dengan tarif US $ 1 para penginap diberikan layanan ramah dengan sebuah kamar yang bersih dan hidangan makanan yang di masak oleh Nyonya Mary Hilton ( ibunya ). Akhirnya Conrad sukses mengelolah hotelnya sendiri dan selepas era resesi ekonomi, Hilton terus terlibat dalam bisnis apa saja yang bisa diceburi, membangun jaringan Hotel Hilton sehingga menjadi sebuah organisasi yang dihormati dalam memberikan layanan ramah dan paling baik di dunia.

KISAH KFC (KENTUCKY FRIED CHICKEN)


Kolonel Harland D. Sanders lahir pada tahun 1890 di sebuah ladang yang berdekatan dengan Hendryville, Indiana. Ayahnya meninggal ketika ia berusia enam tahun. Itu menyebabkan ibunya harus bekerja sebagai tukang jahit baju sedangkan ia juga terpaksa menjaga adik - adiknya yang masih kecil. Pada saat itulah ibunya mengajarkan seni masakan daerah.
Tidak berapa lama setelah ibunya kawin lagi, Harland D. Sanders yang pada saat itu berusia 12 tahun telah berhenti sekolah. Dia keluar rumah untuk mulai bekerja. Di antara pekerjaan awalnya termasuk bertani, penyelia pekerjaan landasan kereta api, kondektur, penjual asuransi, masinis, kapal uap, dan masih banyak lagi. Akhirnya, Harland D. Sanders membuka sebuah terminal layanan yang sukses di mana dia menyediakan masakan istimewa kepada para pelanggan - ayam goreng, semeja 6 orang.
Nampaknya nasib malang merupakan teman setia Sanders. Pada tahun 1939, bisnisnya terpuruk dan nyaris bangkrut. Tampa rasa putus asa, Sanders mendirikan sebuah restoran dan motel dengan gaya baru. Siapa pun yang ingin mengunakan telepon umum atau hendak ke toilet wanita harus melalui replika kamar motelnya yang terdapat di situ.

Iklan ini sukses untuk mengembangkan bisnis motelnya. Ketika pendapatan yang di peroleh agak bagus, satu masalah lain muncul. Ada jalan raya baru yang membuat semua pelanggan lebih suka lewat jalan baru itu sehingah tidak melewati motelnya. Tingkat hunian motel mulai merosot, dan Sanders melelang semua bisnisnya. Namun hasil jualannya hanya cukup untuk membayar hutang yang ada.

Meski Harland D. Sanders sudah berusia 66 tahun ketika itu, ia tidak mempunyai apa-apa yang dapat dibanggakan. Dengan hidup di bawah tanggungan dinas sosial, Sanders berencana mencari segmen pasar baru yang sesuai. Satu-satunya harta paling bernilai yang dimilikinya adalah resep rahasia yang diberi nama "ayam goreng kentucky".

Menjelang tahun 1956, Sanders telah berhasil meyakinkan belasan restoran guna memasak dan menjual ayam goreng Kentucky; dan memberinya US 4 sen sebagai royalti untuk setiap potong ayam goreng yang terjual. Gembira dengan kesuksesan yang di peroleh, Sanders lalu memuati mobil pikap model 1946 miliknya dengan 50 resep ramuan bumbu dan sebuah periuk untuk ditawarkan kepada beberapa orang yang mau membeli waralaba resepnya.

Menjelang tahun 1960, sebanyak 400 buah restoran di Amerika dan Kanada telah meyediakan ayam goreng Kentucky. Dalam waktu 4 tahun, jumlah tempat jualan ayam goreng Kentucky telah meningkat menjadi 650 restoran dengan omset penjualan per tahun bernilai US$37 juta. Saat ini terdapat hampir 10.000 restoran ayam goreng kentucky di seluruh dunia dengan lebih dari 200.000 karyawan dan omset penjualan per tahun lebih dari US$8.2 milyar.

SI BUDAK FRED DOUGLAS




Fred Douglas benar-benar memulai hidupnya tanpa apa-apa. Bahkan dirinya bukan lagi miliknya pada saat masih dalam kandungan ibunya. Sebagai anak budak belian, ia sudah dijadikan jaminan untuk melunasi hutang majikan orang tuanya. Ia jarang bertemu ibunya kecuali pada malam hari dimana ibunya harus berjalan sejauh dua belas kilometer hanya untuk bertemu anaknya selama satu jam. Ia tidak mempunyai kesempatan belajar, karena pada jaman itu, para budak belian tidak diperbolehkan belajar menulis dan membaca.

Namun, tanpa diketahui siapa pun, ia belajar membaca dan menulis. Dalam waktu singkat, ia sudah membuat malu teman-temannya yang berkulit putih dalam hal pelajaran. Pada usia 21 tahun, ia melarikan diri dari perbudakan dan bekerja sebagai seorang pesuruh di New York dan New Bedford. Di Nantucket, ia berpidato, mendesak dihapuskannya perbudakan. Kesan yang ditimbulkannya sedemikian baik sehingga ia diangkat menjadi agen Lembaga Anti Perbudakan di Massachussetts.

Sementara ia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk memberikan ceramah, ia tetap belajar. Ia kemudian dikirim ke Eropa untuk berpidato dan menjalin persahabatan dengan beberapa orang Inggris yang kemudian memberinya 750 dolar untuk menebus kebebasannya sebagai seorang budak. Ia menerbitkan surat kabar di Rochester dan kelak memimpin New Era di Washington. Bertahun-tahun lamanya ia menjadi kepada District of Columbia dan bisa menandingi setiap orang kulit putih mana pun. Apakah keadaan Anda lebih buruk dari Fred Douglas pada waktu dilahirkan?

KISAH MICHAEL FARADAY



Di atas sebuah kandang kuda di London menetap seorang pemuda melarat, Michael Faraday, yang tujuh tahun lamanya menjadi tukang jilid dan penjual buku. Suatu hari, ketika ia sedang menjilid Encyclopedia Brittanica, perhatiannya tertarik pada karangan tentang listrik dan ia membacanya sampai habis. Ia membeli botol kecil, panci tua, dan alat-alat sederhana lainnya untuk melakukan percobaan-percobaan. Salah seorang pembeli buku menaruh perhatian pada pemuda itu dan mengajak ia mendengarkan ceramah tentang ilmu kimia oleh Sir Humphry Davy. Faraday mengumpulkan semua keberaniannya dan menulis sepucuk surat kepada sarjana besar itu.

Pada suatu malam, sebelum Michael tidur, kereta Sir Humphry berhenti di depan rumahnya yang reyot itu. Seorang kurir memberikan undangan kepada Faraday untuk berkunjung ke rumah sarjana itu. Michael hampir-hampir tidak mempercayai hal itu. Esoknya, ia menerima usul Sir Humphry Davy dan bekerja pada ahli kimia itu. Ia membersihkan alat-alat laboratorium dan membawanya ke ruang kuliah. Dengan penuh minat dan perhatian, ia mengikuti semua gerak-gerik Davy saat yang disebut terakhir itu mengenakan topeng kaca dan mengadakan percobaan-percobaan berbahaya dengan zat-zat yang bisa meletus. Michael pun dengan rajin belajar dan melakukan percobaan-percobaan.
Tak lama kemudian, pemuda miskin ini diminta untuk memberikan ceramah di depan Lembaga Ilmu Alam Inggris dan diangkat menjadi profesor di Akademi Kerajaan di Woolwich. Ia menjadi ahli ilmu alam terbesar di jamannya. Apabila ada orang yang bertanya kepada Sir Humphry Davy, apakah penemuannya yang terbesar, maka jawabannya adalah: Michael Faraday.

GARFIELD DARI OHIO



Dalam sebuah gubuk di perbatasan Ohio hidup seorang janda melarat bersama anak laki-lakinya yang berusia 18 bulan. Anak itu tumbuh subur dan beberapa tahun kemudian, ia sudah harus menebangi kayu dan menanami sejengkal tanah dalam hutan yang dimiliki ibunya.
Walau demikian, ia selalu menyediakan waktu untuk belajar. Setiap jam ia gunakan untuk belajar dari buku-buku yang dipinjamnya karena tidak mampu membelinya. Ketika berusia enambelas tahun, dengan senang hati ia bekerja sebagai seorang pengembala keledai di sepanjang kanal. Tak lama kemudian ia menerima pekerjaan baru sebagai seorang tukang sapu dan membunyikan lonceng di sekolah untuk membiayai sekolahnya. Tahun pertama di Geanga Seminarie, ia cuma memperoleh 17 dolar. Lalu ia bekerja pada seorang tukang kayu dengan bayaran 1 dolar seminggu.
 
Malam hari, bila sedang libur, ia bekerja lembur. Ia datang pada hari Sabtu untuk menerima bayaran 1 dolar dan 2 sen. Musim dingin selanjutnya ia mengajar dengan gaji 12 dolar. Tak lama kemudian ia belajar di William College dan berhasil lulus sebagai seorang dokter dengan gelar cum laude. Pada usia 26 tahun, ia menjadi anggota Senat Amerika Serikat dan tujuh tahun kemudian menjadi anggota Kongres. James A. Garfield akhirnya menjadi Presiden Amerika Serikat. Teladannya merupakan sumber inspirasi bagi siapa pun yang memulai hidupnya dari dasar.

KISAH NAPOLEON

Apakah mungkin untuk melewati jalan ini?" tanya Napoleon kepada para insinyur yang dikirim untuk menyelediki terusan St. Bernard yang menakutkan itu.
"Barangkali, bukannya tidak mungkin," jawab mereka dalam nada ragu-ragu.
"Tempuh saja!" jawab Napoleon tanpa menghiraukan kesukaran-kesukaran yang hampir tak teratasi. Inggris dan Austria menertawakan keputusan Napoleon untuk menggerakkan tentara melintasi pegunungan Alpen. Tak pernah ada orang yang bisa, apalagi dengan membawa 60.000 tentara, dilengkapi dengan meriam- meriam besar, berpeti-peti peluru, dan barang dalam jumlah besar. Akan tetapi ketika tindakan yang 'mustahil' itu selesai, orang-orang sekonyong- konyong tahu bahwa hal itu memang bisa dilakukan dari dulu. Yang diperlukan hanyalah keberanian dan tekad seperti Napoleon. Dia tidak pernah gentar menghadapi segala rintangan itu. Dan ia mengambil kesempatan itu.
MEREKA YANG BERHASIL ADALAH YANG MAMPU MEMBUAT SEBUAH PONDASI YANG KOKOH DARI BATU BATA YANG DILEMPARKAN OLEH ORANG LAIN KEPADANYA

MOTTO "Saya melewati hari ini hanya sekali; karenanya setiap perbuatan baik yang dapat saya lakukan atau kebaikan apapun yang bisa saya perbuat kepada siapapun, biarlah saya melakukannya sekarang. Jangan biarkan saya mengabaikannya, karena pasti saya  tidak akan melewati hari ini lagi..

DOAMU TELAH TERKABUL

Ibnu Abi Al-Dunya menceritakan bahwa ada seseorang mimpi bertemu dengan Nabi Saw. Dalam mimpinya itu beliau berkata: “Pergilah kepada orang Majusi yang berada di Baghdad. Katakan kepadanya: Doamu telah terkabul.”

Orang tersebut bercerita: Pada pagi harinya aku berpikir: Bagaimana aku bisa menemui orang Majusi itu. Pada malam berikutnya aku bermimpi yang sama. Pada malam yang ketiga aku juga mengalami mimpi yang sama. Maka pada pagi hari aku pun pergi ke Baghdad dan menemui orang Majusi itu. Ternyata dia adalah seorang saudagar yang kaya raya.

Kemudian aku masuk dan mengucapkan salam. Ia bertanya: Apakah kamu ada keperluan? Aku menjawab: Ya. Ia berkata: Katakan. Aku berkata: Kita harus berbicara empat mata. Kemudian orang-orang yang ada di situ keluar dan tinggallah para sahabatnya. Aku berkata lagi: Mereka juga harus keluar. Maka ia menyuruh mereka keluar dan berkata: Silahkan katakan.

Aku berkata: Saya adalah utusan Rasulullah Saw, yang mana beliau berkata kepadamu: Doamu telah dikabul. Ia bertanya: Apakah kamu mengenalku? Aku menjawab: Ya. Ia berkata: Aku tidak mempercayai Islam dan juga risalah Muhammad. Aku berkata: Aku juga telah mengatakan kepada beliau bahwa kamu tidak mempercayainya, tetapi beliau mengutusku untuk menyampaikan ini kepadamu. Ia bertanya: Beliau mengutusmu kepadaku? Aku menjawab: Ya. Ia kemudian berkata: Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.

Kemudian ia memanggil sahabat-sahabatnya seraya berkata: Aku pernah berlabuh dalam kesesatan, dan sekarang telah kembali kepada yang benar. Oleh karena itu, barang siapa yang masuk Islam, maka ia akan memiliki apa yang telah aku berikan. Tetapi barang siapa yang enggan masuk Islam, maka ia harus menanggalkan apa yang pernah aku berikan. Mendengar tuannya berbicara seperti itu, maka sebagian besar dari mereka masuk Islam.

Lantas ia memanggil anak lak-lakinya seraya berkata: Aku pernah sesat, dan sekarang aku telah masuk Islam. Apa yang akan kamu lakukan? Anaknya menjawab: Wahai ayahku, aku pun akan masuk Islam. Setelah itu, sang anak masuk Islam.

Kemudian ia memanggil anak perempuannya seraya berkata: Anakku, aku beserta saudaramu telah memeluk Islam. Oleh karena itu, jika kamu masuk Islam, maka aku akan pisahkan kamu dari saudaramu, karena pernikahan antar saudara dalam Islam hukumnya haram. Anak perempuannya berkata: Wahai ayahku, demi Allah, sesungguhnya sejak awal aku sangat membenci pernikahan kami berdua, dan sekarang aku memeluk Islam.

Setelah itu, ia bertanya kepadaku: Apakah kamu tahu doa yang diijabah itu? Aku menjawab: Tidak. Ia kemudian menjelaskan: Ketika aku menikahkan putriku dengan putraku, aku membuat pesta yang meriah dan aku mengundang semua orang. Mereka semuanya berdatangan karena aku adalah orang yang kaya raya. Ketika pesta makan-makan selesai, aku merasa lelah. Kemudian aku menyuruh pembantuku untuk menghamparkan tikar di atas rumah. Sementara itu, di samping rumahku tinggallah orang-orang miskin yang merupakan keluarga Nabi Saw. Ketika akan tidur, aku mendengar seorang anak berkata kepada ibunya: Wahai ibu, oang Majusi ini telah menyakiti kita dengan semerbak bau makanannya.

Mendengar ucapan si anak itu, aku langsung terhentak dan membawakan makanan dan uang yang banyak, dan pakaian kepada mereka. Ibu tadi berkata: Semoga Allah mengumpulkanmu dengan kakekku. Adapun yang lain mengamininya. Itulah yang dimaksud dengan doa yang terkabul itu (Kitâb Al-Tawwâbîn: h. 199, 200).

MENJADI HAMBA ALLAH YANG SEBENARNYA

Pagi itu saya tengah berkeliling sebuah pesantren yang mengagumkan di Kalimantan Timur. Pesantren itu adalah Pesantren Hidayatullah yang terletak di sebuah kawasan bernama Gunung Tembak, Balikpapan.
120 hektar luas pesantren itu dan lebih dari 130 cabang sudah tersebar di dalam maupun luar negeri.  Setidaknya itulah info yang saya dapatkan dari beberapa ustadz yang menemani saya saat bersilaturahmi ke sana. "Santri sebanyak ini, berapa biaya yang dikeluarkan setiap bulannya…?" tanya saya kepada Ustadz Ainurrofiq.

Beliau menjawab bahwa Alhamdulillah biaya bulanan selalu cukup meskipun banyak dari santri yang tidak sanggup membayar SPP. "Lalu darimana biaya bulanan itu ditutupi…?"kejar saya. "Khan ada Allah!!!" jawab beliau singkat. "Ya, saya mengerti… tapi khan pasti ada jalan keluar yang harus dicari...

Begini aja, ada cerita bagus gak dari pesantren ini yang bisa dibagi ke saya?!" tandas saya. Akhirnya ustadz Rofiq (beliau biasa disapa demikian), menceritakan satu kisah yang mengagumkan: Waktu itu pernah datang kepala gudang kepada Abdullah Said, pimpinan pertama pesantren.

Sang ustadz, kepala gudang pagi itu datang mengadu kepada bapak pimpinan, "Pak, di gudang kini tidak tersisa sebutir beras pun untuk makan santri nanti siang!" Hal itu dilaporkannya pada pukul sekitar jam 8 pagi, padahal makan siang hanya tersisa 4 jam lagi. Dus, santri yang perlu makan jumlahnya adalah ratusan.

Mendengarnya pak kyai menjawab tenang. Ya, inilah sosok hamba Allah yang selalu menyerahkan urusannya kepada Allah. Tidak pernah panik dan selalu tenang! Beliau menukas, "Begini saja, mari kita pergi ke masjid untuk shalat Dhuha!" Sang ustadz kepala gudang mengiyakan ajakan pak kyai.

Ustadz kepala gudang tahu benar tabiat kyai yang selalu menyerahkan semua urusan kepada Allah Swt.
Melihat mereka berdua berjalan menuju masjid, rupanya ada beberapa ustadz lain yang mengikuti langkah mereka.
Pemandangan segerombolan ustadz dan kyai menarik perhatian beberapa santri dan akhirnya rombongan menuju masjid untuk melaksanakan shalat dhuha pun menjadi banyak.
Inilah para hamba Allah yang sebenarnya. Yaitu manusia-manusia shalih yang mengabdikan diri menjadi hamba Allah sesungguhnya, dan mereka semua menjadikan Allah Swt menjadi Tuhan mereka dengan sebenarnya.

Radhitu billahi Rabban.... wa bil islami diinaa... wa bi muhammadin nabiyyan wa rasuulaa...

Maka para hamba Allah itu melakukan shalat dhuha sepuas hati mereka. Ada di antara mereka yang mengerjakan 2, 4, 6, 8 bahkan 12 rakaat. Usai mereka berdiri, rukuk dan sujud dihadapan Allah Sang Penguasa Alam, maka wajah-wajah mereka menengadah. Tangan-tangan mereka terangkat menjulur ke langit.

Mereka meminta dengan penuh harap dihadapan Tuhannya.
Allahumma inna hadzhad dhuha'a dhuha'uka wal baha'a baha'uka..... Aatinii maa ataita min ibaadikas shaalihin...
Ya Allah... sungguh waktu dhuha ini adalah milikMu, dan keagungan adalah kepunyaanmu....

Berikan kepadaku karunia yang pernah Engkau berikan kepada hamba-hambaMu yang shalihin.

Itulah doa Dhuha yang dibacakan oleh para hamba Allah tadi. Kondisi mereka masih berada di tempatnya. Tidak seorang pun beranjak pergi meninggalkan masjid. Meski demikian, rupanya ijabah Allah sudah tiba sebelum doa mereka diselesaikan.

Ya, ijabah Allah mendahului permohonan doa mereka!!!
Siapa yang pernah berkunjung ke pesantren Hidayatullah di Gunung Tembak ini akan mendapati bahwa gerbang pesantren terletak di sisi kanan depan masjid. Maka gerbang tidak jauh berjarak dari masjid tempat para hamba Allah tadi berdoa.

Maka di gerbang tersebut ada sebuah truk penuh berisi muatan beras. Ya, beras!!! Beras yang Allah Swt datangkan untuk para hambaNya yang membutuhkan.

Truk itu pun dibongkar muatannya di gudang pesantren. Sambil membongkar para petugas pesantren menanyakan kepada supir truk darimana asal beras ini. Supir truk itu memberi keterangan bahwa kemarin Bulog Kaltim melakukan sidak (inspeksi mendadak) di pasar.

Mereka temukan raskin (beras untuk orang miskin) rupanya dijual bebas. Maka beras itu pun disita oleh Bulog. Setelah disita para pejabat Bulog Kaltim mendapati bahwa gudang mereka penuh dan tidak bisa menampung beras sitaan. Maka mereka berpendapat, kalau tidak bisa disimpan lebih baik disumbangkan saja sebelum beras itu rusak. Namun kemana hendak disumbangkan?

Maka mereka memutuskan untuk menyalurkan beras itu ke pesantren Hidayatullah saja!!! Subhanallah...!!! rupanya sebelum pak Kyai Abdullah Said berdoa bersama para ustadz dan santrinya, jauh sebelum itu rupanya Allah SWT sungguh sudah mempersiapkan segala yang hendak diminta oleh para hamba-hamba kesayangannya.

Sungguh ada kenikmatan dan keindahan yang tiada terperi, bila kita menjadi hamba Allah sebenarnya! Tidakkah kita menyadarinya, sobat?!

KISAH ORANG-ORANG DI PERBATASAN

Kita sebagai warga negara Indonesia,saya yakin kita tidak tahu tentang kondisi sesungguhnya di daerah perbatasan Indonesia dengan negara lain.Jangan bayangkan dengan kondisi mewah & sudah terjangkau dengan alat komunikasi & listrik,karena alat transportasi saja sangat sulit di temukan didaerah perbatasan.Kita hanya bisa menjangkau dengan berjalan kaki,menembus lembat hutan rimba & anak sungai yang arusnya sangat deras.

Bagi mereka akses listrik,transportasi,kesehatan & pendidikan adalah barang yang sangat mewah untuk mereka jumpai.Mereka hanya di perhatikan ketika musim Pemilu datang,banyak orang & pejabat yang dating ke daerah mereka guna meminta suara mereka.Tapi setelah pemilu berakhir,daerah mereka tidak akan pernah di kunjungi lagi oleh siapa pun & sunyi sepi di tengah hutan rimba.

Mereka adalah warga negara Indonesia,yang mempunyai hak & kewajiban yang sama seperti kita yang tinggal di kota-kota besar di Indonesia.Ditengah sibuknya suasana ekonomi & germuruhnya politik yang gaduh,mereka tidak pernah & tidak mau tahu hal tersebut.Karena hal itu semua,tidak akan mengubah kondisi mereka saat ini menjadi lebih baik.

Jangan salahkan mereka,kalau identitas mereka gadaikan demi sebuah kehidupan yang lebih baik karena mereka lebih di hargai di negara orang lain ketimbang di negaranya sendiri.Yang sudah puluhan tahun hidup,tapi tidak pernah di pedulikan keadaan kehidupan mereka oleh para petinggi bangsa kita.


Sumber

Sabtu, 30 Juli 2011

KEHIDUPAN MASYARAKAT DIENG

Kehidupan Masyarakat Dieng

Dataran Tinggi Dieng adalah wilayah yang masuk dalam Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Saya kurang tahu dengan detail batas-batas wilayahnya. Tempat saya menginap yaitu Hotel Asri sampai dengan Telaga Warna itu masuk ke dalam wilayah Wonosobo. Namun kalau sedikit saja berjalan ke arah Candi Arjuna itu sudah termasuk Kabupaten Banjarnegara. Wilayah Dieng ini kalau saya nggak salah terbagi dalam tiga bagian yaitu Kejajar (tempat saya menginap), Dieng Kulon (pemukiman dekat Candi Arjuna), dan Dieng Wetan.

Dieng tidak hanya dikenal dengan wisata alam dan wisata sejarahnya yang luar biasa mengagumkan. Masyarakat Dieng juga dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan santun. Mereka ini hidup berdampingan dengan alam. Sebagian besar masyarakat Dieng memang menggantungkan hidup dengan alam sebagai petani. Tanaman yang menjadi andalan petani di Dieng adalah kentang. Dengan mudah Anda bisa menemukan tanaman kentang di Dataran Tinggi Dieng. Bahkan hasil kentang Dieng adalah yang terbesar di Indonesia. Sayuran lain juga ada namun variasinya nggak banyak karena Dieng lokasinya cukup tinggi dan mempunyai suhu yang sangat dingin jadi hanya tanaman yang berpohon pendek, berukuran kecil, dan berdaun tebal seperti kentang yang bisa tumbuh dengan baik disini.
Kehidupan Masyarakat Dieng

Selain kentang hasil pertanian lain di Dieng adalah Carica dan Purwaceng. Carica adalah buah sejenis pepaya yang katanya hanya hidup di dua tempat di dunia yaitu Brazil dan Dieng. Biasanya buah ini diolah menjadi manisan dan dikemas dalam bentuk gelas untuk dijual di pasaran. Kalau mau membeli buah Carica yang belum diolah juga ada kok. Saya sempat melihatnya di warung-warung yang ada di Dieng Plateau Theater. Sementara Purwaceng yang pernah sedikit saya bahas adalah tanaman yang cukup langka karena hanya bisa hidup di tempat dengan ketinggian 2.000 meter dpl atau lebih. Purwaceng biasa diolah menjadi sebuah minuman atau kapsul yang berkhasiat untuk menambah vitalitas pria.

Dengan kondisi alam Dieng yang luar biasa indah dan banyaknya tempat wisata, masyarakat Dieng juga menggantungkan hidup kepada para wisatawan dengan menyewakan penginapan atau homestay. Banyak sekali penginapan dan homestay yang tersebar di sepanjang Kejajar dan Dieng Kulon. Harganya sangat bervariasi, mulai dari yang paling murah adalah 50.000 untuk penginapan sederhana. Sedangkan rata-rata harga untuk homestay adalah 120.000-200.000 tergantung dari fasilitas yang disediakan.

Menjadi tukang ojek adalah profesi sebagian kecil masyarakat Dieng. Bagi yang ke Dieng tidak menggunakan kendaraan sendiri tukang ojek menjadi solusi alternatif untuk berkeliling Dieng. Anda bisa menyewanya selama beberapa hari. Tarif ojek untuk dua hari keliling Dieng adalah 100.000-150.000. Tukang ojek ini sekaligus bisa menjadi guide Anda saat berkeliling Dieng. Selain itu beberapa warga bekerja sebagai guide, tukang panggul di ladang, dan pengamen di beberapa tempat wisata.
Kehidupan Masyarakat Dieng

Ada sebagian orang berpendapat bahwa tinggal di tempat yang suhunya dingin membuat kulit menjadi putih. Tapi ini sepertinya nggak berlaku untuk warga Dieng. Rata-rata warna kulit warga Dieng adalah coklat tua seperti halnya orang Jawa kebanyakan meskipun suhu udara di Dieng sangat dingin. Mau tahu kenapa? Ini hanya dugaan saya saja, mungkin kebiasaan masyarakat Dieng berjemur di bawah terik matahari pada pagi hingga siang hari adalah penyebabnya. Maklum saja, pada jam 10 pagi dimana matahari sudah mulai di atas kepala tapi udara dingin disini masih saja terasa. Saya juga mengalami hal yang sama kok. Untuk menghilangkan rasa dingin saya ikut-ikutan berjemur di panas terik matahari. Hasilnya adalah kulit muka saya jadi gosong, bahkan sampai mengelupas. Padahal sewaktu disana nggak terasa panasnya.

Selain beberapa profesi yang saya sebutkan di atas, masyarakat Dieng juga terkenal akan kesenian daerahnya. Setiap RT/RW memiliki kelompok-kelompok tari tersendiri yang melakukan pentas saat ada festival budaya. Luar biasa!! Benar-benar masyarakat yang dekat dengan alam, sejarah, dan budaya. Hal yang tidak kalah menarik adalah adanya fenomena anak berambut gimbal (gembel) yang hanya bisa ditemukan di Dataran Tinggi Dieng. Beberapa hal yang sudah saya sebutkan ini bisa disaksikan nanti saat puncak Dieng Culture Festival 2011 berlangsung. Tunggu aja ya laporannya!

KISAH SEDIH GADIS - GADIS AMOY SINGKAWANG


Kalimantan memang pulau yang indah nan subur, pulau yang memberikan berkah berlimpah berkat sumber daya alamnya yang kaya. Pulau yang dimiliki oleh tiga Negara sekaligus ini merupakan salah satu pulau terbesar di dunia. Memiliki kekayaan alam, tidak sepenuhnya memberikan berkah bagi penduduk sekitarnya. Indonesia memiliki bagian terbesar daerah di Kalimantan tapi ironisnya, Indonesia memiliki penduduk termiskin yang sangat kontras dengan pemilik pulau lainnya seperti Malaysia dan Brunai Darusallam yang hidup dengan mewahnya.

Ketimpangan sosial ini menimbulkan banyak persoalan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang hidup di Kalimantan. Banyak dari mereka yang tidak memiliki pekerjaan walaupun sadar tanah yang mereka pijak telah memberikan triliunan Dollar kepada pemerintah dan sebagian pengusaha. Bila kita mendengar terjadinya eksodus TKI dari daerah sekitar Kalimantan menuju Malaysia atau Brunai, maka kita tidak bisa menyalahkan mereka.
Bagi mereka yang mendapatkan pekerjaan di negeri tetangga, itu adalah sebuah berkah, tapi bagi mereka yang tidak punya pilihan karena tidak dapat bekerja. Mereka hanya mengandalkan satu hal, diri mereka sendiri untuk dikorbankan. Itulah yang terjadi pada gadis-gadis Kalimantan yang banyak terjadi di sebuah daerah Kalimantan Barat, Singkawang. Gadis-gadis remaja yang beranjak dewasa atau disebut Amoy, rela melepas perawan mereka dengan diperistri oleh laki-laki luar yang kebanyakan berasal dari Malaysia, Taiwan, Hongkong dan Brunei.

Singkawang memang kota yang unik, hampir sebagian penduduknya secara garis besar adalah warga keturunan China yang telah hidup di Indonesia selama beberapa generasi dari nenek moyang mereka. Banyak dari mereka yang bekerja sebagai petani, nelayan dan pedagang. Sayangnya, tidak semua penduduknya hidup seperti layaknya keturunan China di beberapa Negara atau kota yang hidup mewah ataupun sederhana. Banyak dari penduduknya hidup dibawah garis kemiskinan yang sangat menyedihkan.

Kata Amoy adalah singkatan bagi gadis-gadis remaja keturunan China yang belum menikah. Boleh dikatakan Singkawang memang indentik dengan julukan lain kota Amoy selain kota seribu kelenteng. Parahnya, singkatan itu tidak semuanya berujung baik, Amoy Singkawang indentik sebagai gudangnya pria-pria yang ingin mencari istri secara instans. Fenomena Amoy yang tersohor itulah yang melahirkan pernikahan lintas Negara.

Pernikahan lintas Negara sepertinya sudah menjadi impian bagi gadis-gadis singkawang untuk mengubah garis hidup mereka yang miskin dengan harapan ketika menikah nanti, sang suami bisa mengubah semuanya. Lucunya lagi, keinginan gadis-gadis Amoy itu menjadi ladang bisnis yang subur bagi segelintir orang untuk mendirikan kantor agen biro jodoh. Jadi selain kantor agen biro tenaga kerja, agen biro jodoh ala makcomblang modern, kini sangat banyak tumbuh subur di Singkawang ( CIC: Selang 15 tahun belakangan ini saja sudah terjadi 55.800 lebih perkawinan lintas negara ini. Dan kebanyakan adalah dengan pria-pria dari negara Taiwan )

Keinginan besar untuk segera lepas dari garis kemiskinan membuat banyak gadis-gadis singkawang mendaftarkan diri ke Biro jodoh untuk dicarikan suami tanpa pernah merasakan cinta. Melihat fenomena itu, tidak heran begitu banyak para orang tua yang berharap melahirkan anak perempuan daripada laki-laki. Padahal tidak semua gadis Amoy ya1ng menikah dengan pria asing menjadi kaya seketika. Karena latar belakang pria yang akan menikahi gadis Amoy tidak akan pernah jelas sebelum gadis Amoy itu tiba di Negara Suami.

Gadis Amoy memang menjadi idaman bagi pria-pria asing untuk dinikahi, selain terkenal dengan tekun dan pekerja keras. Gadis amoy juga terkenal dengan rasa hormat serta pengorbanan yang tinggi kepada orang tua mereka. Itu terbukti dengan kerelaan mereka menikah dengan pria asing hanya untuk membantu perekonomian orang tuanya. Padahal, uang yang didapatkan dari hasil pernikahan itu tidak seberapa besarnya.

Seorang agen biro jodoh menjelaskan kalau seorang gadis Amoy yang menikah, biasanya akan mendapatkan mahar nikah dari suami yang berkisar antara 5-20 juta. Dengan uang sebanyak itu, maka sang anak gadis sudah resmi terjual kepada pria yang meminangnya. Celakanya dalam tradisi kebudayaan China, anak gadis ketika menikah dianggap telah lepas dari garis keturunan keluarga, itu terlihat dari hilangnya marga sang gadis mengikuti suami.

Gadis Amoy yang menikah tanpa cinta itu, setelah menikah tidak akan pernah melupakan keadaan orang tua. Biasanya setiap bulan mereka akan mengirimkan uang kepada orang tua, itulah yang membuat banyak orang tua yang berpikir pendek untuk tanpa ragu menikahkan anak gadisnya ketika menginjak usia 14 tahun. Padahal tidak semua pernikahan itu berujung bahagia, bisa jadi malah menjadi petaka.

Seperti yang dikisahkan oleh Asing. Gadis Amoy yang terpaksa menikah dengan pria Taiwan karena ingin membantu orang tuanya yang miskin. Asing menikah disaat usianya 14 tahun. Orang tuanya hanya petani serabutan, ia mendaftarkan dirinya ke agen biro jodoh setempat. Hanya seminggu setelah mendaftar, ia sudah dilamar oleh pria Taiwan berusia 30 tahun atau dua kali lipat umurnya. Dengan mahar sebesar 10 juta, ia pun menikah dan merantau ke negeri suaminya.

Awalnya ia berpikir kalau suaminya adalah orang kaya yang akan mengubah hidupnya, ternyata ia salah. Suaminya berbohong tentang semua kekayaan yang pernah dikatakan. Ketika tiba di Taiwan, ternyata sang suami hanyalah pedagang ikan yang berjualan di pasar. Kalau sudah begitu, Asing tidak punya pilihan selain ikut kepada suaminya, ia tidak bisa lari karena kendala bahasa dan lingkungan yang asing baginya.

Pernikahan itu seolah hanya untuk membuat suaminya memiliki pembantu, terbukti dengan betapa beratnya hidup Asing mengikuti suami. Ia harus membantu berdagang dan mencari ikan di laut. Hatinya miris dan ingin lari dari keadaan tapi tak berdaya, pasportnya ditahan sang suami. Demi membahagiakan orang tua, ia pun terpaksa menutupin semua kesedihan hatinya. Setiap bulan hasil keringat kerjanya dikirim kepada orang tua. Itupun hanya kalau sang suami berbaik hati memberikan uang.

Lain Asing lain pula dengan Alang. Ia menikah dengan pria Hongkong dengan keadaan cacat lumpuh. Ia rela menikah dengan pria itu untuk membantu ibunya yang sudah janda dan adik-adiknya yang masih kecil agar tetap bisa bersekolah. Ia seperti menjadi seorang suster bagi suami yang tidak mampu berjalan, setiap paginya ia harus merawat suami hingga malam. Tapi, sekali lagi.. Demi harapan besar agar hidup keluarganya berubah, ia menutup mata hatinya dan pasrah terhadap takdirnya.

Asing atau Aling hanya sebagian kecil dari ribuan gadis-gadis amoy yang berjuang hidup untuk orang tuanya. Banyak lagi yang tidak beruntung hingga mengalami siksaan fisik , cacat dan lebih buruk lagi dijadikan pelacur oleh suaminya sendiri. Mendengar hal-hal seperti itu, agen biro jodoh malah tidak pernah sepi dari gadis-gadis lugu yang tak berdaya karena kemiskinan untuk mengantri menunggu giliran takdir mereka selanjutnya..

Sungguh pilu melihat keadaan anak-anak Indonesia yang harus hidup tanpa nurani yang mampu berkata ataupun menjerit. Pernikahan ala export itu telah menjadi bagian daripada sindikat penjualan manusia secara legal. Tapi semua pihak tidak pernah bisa berdaya melihat kejadian fenomena ini. Mereka hanya bisa berharap kepada Tuhan agar fenomena ini berakhir, untuk berharap kepada pemerintah rasanya seperti bicara dengan burung didalam sangkar...

Jumat, 29 Juli 2011

KATA MAAF UNTUK IBU MENJELANG RAMADHAN

Menjelang bulan ramadhan diantara kita pastinya menyempatkan diri untuk maaf- mafaan dengan orang tua dan juga sanak family lainnya. Ramadhan rasanya belum lengkap tanpa mendapatkan maaf dari orang tua terutama ibu. Saya ingat ketika dulu kecil begitu sering melukai hati ibu. Hati yang begitu lembut, hati yang diciptakan penuh dengan kebersihan dan ketulusan yang teramat dalam. Mungkin puasa nanti, esok, bahkan satu detik yang akan datang kita tak pernah tau situasi apa yang akan terjadi.
air-mata-ibu

Menyesal rasanya, melihat banyak saat ini orang yang meninggal mendadak membuat saya bertanya mungkinkah saya akan lama tinggal di dunia ini? Mungkinkah luka yang membekas dihati orang tua saya akan terobati? Semua pertanyaan itu terus menggelayut di dalam hati dan menjadi beban  moril tersendiri dihati saya. Mungkinkah kata “MAAF” yang tulus akan saya dapatkan sebelum puasa nanti.
Banyak hal yang membuat kita merasa melupakan apa yang kita dapat saat ini, kalau bukan doa dan restu dari orang tua mungkin kita tidak bisa sampai sebesar dan sesukses saat ini, untuk menjalani hidup kedepan yang leih baik lagi.
Jadikan puasa ini menjadi berkah dan juga ladang pahala untuk anda. Minta maaflah mulai saat ini mumpung masih ada waktu kepada Ibu, Karena jasa ibu lah saat ini kita masih berada di muka bumi ini, karena kasih sayangnya juga kita masih bisa menghirup udara dan memberi sesuatu yang dulu mereka beri kepada anak kita sekarang .
Karena tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu, tidak ada yang bisa menyerupai kebaikan yang ia berikan kepada kita, pelukan , senyuman, sentuhan tulus, dan air mata penuh kasih yang senantiasa tercurah sepanjang hari. Mari sambut ramadhan kita dengan meminta maaf yang sebesar- besarnya kepada Ibu kita, dan juga ayah serta orang –orang yang kita sayang. Semoga puasa kita annti mamp menjadikan kita pribadi yanlebih baik lagi.

PENTINGNYA SEORANG AYAH !

Satu mata kuliah lagi dan harus segera menuju gedung yang terpisah dari gedung utama kampus saya. Cuaca pada hari itu Kamis 30 Agustus 2007 tidak terlalu panas meski langit sangat terlihat cerah, tetapi perasaan saya sedang tidak bagus pada saat itu, satu hari sebelumnya ayah saya yang biasa dipanggil oleh anak-anak dan orang-orang sekitar dengan sebutan “Baba” atau “Babeh” harus masuk Rumah sakit karena komplikasi penyakit yang telah lama di deritanya. Awalnya beliau mengeluh merasakan sakit di lambungnya serta gula darah yang naik, selama beberapa hari tubuh beliau tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Sungguh tidak tega saya melihat keadaan kesehatannya yang memburuk, apalagi bila melihat wajah ibu saya yang penuh dengan kesedihan karena selain mengurus Baba yang sedang sakit, juga harus memikirkan diri saya yang sedang berjuang melawan tumor otak.
Selama di kelas perasaan saya sangat tidak tenang, pikiran saya terus tertuju kepada kondisi Baba di rumah sakit, meskipun saya terus berusaha untuk tenang tetapi hati ini selalu ingin segera pulang ke rumah.
Segera setelah perkuliahan, karena jarak yg cukup jauh dari tempat angkot ngetem, saya meminta tolong kepada Fajrie teman saya untuk mengantar saya mencari angkot untuk pulang dengan motornya.
Dalam perjalanan saya mencoba menghubungi rumah dari handphone, tetapi tidak diangkat hingga berkali-kali, lalu saya mencoba menghubungi kaka saya yang sedang di rumah sakit… tidak berapa lama telepon saya diangkat, lalu ada suara diseberang sana yang bilang ke saya “Kalau sudah pulang, tunggu saja dirumah, ada Mpo Atin disana” tut..tut..tut..
Sungguh saya semakin bingung ada apa sebenarnya, namun saya tidak ingin mengikuti firasat dalam diri saya.. saya hanya tidak ingin hal yang buruk terjadi. Saya duduk di dalam angkot dengan penuh ketidakpastian, penuh dengan pikiran negatif, tetapi saya berusaha tidak mengikuti kekhawatiran dalam pikiran saya.
Beruntung angkot yang saya tumpangi tidak begitu sering berhenti, dan jalan raya ke arah rumah sayapun terasa lengang tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu macet. Tidak sampai setengah jam akhirnya saya sampai di depan jalan menuju rumah, tiba-tiba ada ojek yang biasa mangkal di sana menghampiri saya dan berbicara kepada saya “Ayo cepetan us, gw disuruh anter lw ke rumah”. Lalu saya bertanya “memangnya ada apa bang?” tapi dia hanya diam tidak menjawab pertanyaan saya, saya bertanya dalam hati “ada apa ini?”.
Sampai dirumah hanya ada Mpo Atin, kakak perempuan saya yang nomor 9. Memang kami semua 13 bersaudara dan saya adalah anak yang terakhir atu yang ke 13. Saya langsung bertanya kepada dia ada apa sebenarnya? Dari penjelasannya saya mengetahui bahwa Baba sedang mengalami masa kritis, dan semua keluarga kecuali Mpo Atin dan saya sudah berada di rumah sakit. “Kenapa tidak ada yang menghubungi gw tadi?” pertanyaan tersebut langsung keluar dari mulut saya, dan Mpo Atin menjawab “Tadi kabar dari rumah sakit begitu mendadak, dan tidak ada waktu lama, tetapi bukan lupa sama Daus, hanya yang lain tidak mau membuat Daus berfikir macam-macam”. Saya bisa maklum terhadap alasan tersebut, memang saya tidak diperbolehkan berfikir yang terlalu berat dan menyebabkan stress, yang bisa menyebabkan diri saya mengalami kejang, namun saya menyesal tidak ada di samping Baba disaat genting dalam hidupnya.
Telepon rumah berdering, segera Mpo Atin mengangkatnya, namun tidak lama kemudian dia mengeluarkan air mata, sambil terisak pelan dia menutup telepon tersebut, lalu menghampiri saya dan berujar pelan…”Baba udah dipanggil us”. Jlebb… saya langsung terdiam, rasanya sulit untuk mengeluarkan kalimat dari mulut saya, saya langsung terduduk lemas menyandar pada tembok di belakan saya. Saya tidak bisa membendung air mata ini, tetapi saya tidak mau berlama-lama larut dalam kesedihan, saya mencoba ikhlas menerima semua ini meskipun dimata saya Baba adalah sosok ayah yang sempurna, ayah yang selalu bekerja keras demi melihat keluarga yang amat dia cintai hidup dengan bahagia, ayah yang mendukung setiap keinginan anak-anaknya, ayah yang menjadi teladan bukan hanya bagi keluarga tetapi juga bagi orang lain, ayah yang mengenalkan saya kepada sepakbola hingga sekarang saya menjadi seorang penggila sepakbola, ayah yang mendukung saat saya memilih menekuni basket, ayah yang selalu sabar bila melihat saya kejang serta kesakitan akibat tumor otak yang saya derita, serta ayah yang terus berusaha mencari jalan keluar untuk kesembuhan saya, meski beliau juga mempunyai penyakit yang membutuhkan perhatian.
Jenazah Baba tiba dirumah sehabis magrib, dan diputuskan untuk menguburnya keesokan harinya, yaitu pada hari Jumat 31 Agustus 2007 setelah Shalat Jumat. Keesokan harinya, jenazah Baba dikubur tepat disamping makam ibundanya (nenek) dan anaknya, yang tak lain adalah kakaku yang nomor 2.
Beberapa hari sebelum beliau masuk rumah sakit, ada sebuah momen saat kami duduk berdua di pekarangan belakang rumah pada sore hari. Dalam kesempatan itu, Baba menayakan perkembangan kesehatan dan kuliah saya, serta tidak lupa menceritakan saat masa muda beliau, meski sudah berkali-kali Baba menceritakan hal tersebut tetapi saya tidak pernah bosan mendengarnya, karena Baba mempunyai keunikan dalam berbicara. Kata “Ngarti kaga lu” atau “Paham kaga”  adalah kata yang wajib ada bila beliau sedang bicara, pembawaannya yang lucu membuat saya nyaman bila berbicara santai maupun serius dengan beliau.
Ditengah perbincangan tersebut, kami berdua sempat terdiam.. tiba-tiba Baba berujar “Kapan-kapan mau buat bale atu saung yang gedean, biar kalo banyak orang dateng ketampung semua”. Pada saat itu saya menanggapinya dengan santai, saya tidak merasa kalau kalimat tersebut adalah pertanda beliau akan meninggalkan kami semua, dan itulah terakhirkalinya saya duduk santai berdua dengan beliau.
Saya tahu kepergian Baba adalah ujian terberat bagi saya, apalagi beliau begitu berharap melihat saya sembuh dari tumor otak  serta melihat saya menjadi seorang sarjana. Tetapi sebelum hal tersebut kesampaian, Allah terlebih dahulu memanggil beliau. Dan saya akan berusaha keras untuk memenuhi harapannya melihat saya sembuh dan menjadi seorang sarjana, serta meraih sukses dimasa depan meski beliau melihatnya dari surga.. Amin.